Minggu, 05 Mei 2013

Cari Kasur Baru

Nyari kasur di Pare bukan hal yang sulit, apalagi buat yang berkantong tebal. Tapi sayangnya ini bukan sekedar masalah kantong, ini masalah kapuk.

Kalo boleh dianalisa sebenarnya alasan orang memilih sebuah kasur, bukan sekedar dari penglihatan tapi lebih kepada faktor X (rekomendasi misalnya). 


Setelah putar-putar keliling kota Pare akhirnya saya menemukan sebuah kostan yang lumayan nyaman menurut pandangan saya. Selain aksesnya mudah, banyak dede-dede (sebutan untuk cewe-cewe manis) kayaknya juga jadi faktor utama saya memilih kasur baru. 



Setelah di pantau beberapa hari akhirnya saya memutuskan untuk menyewa kostan tersebut ya untuk bulan berikutnya,  maklum kostan saya tinggal sekarang akan digunakan untuk acara pernikahan, alhasil semua penghuninya harus minggat. Tapi untuk saat ini saya tidak terlalu yakin dengan putusan saya, akhirnya saya hanya memberikan DP sebagai tanda jadi.

Siang itu begitu terik, setelah beberapa saat ku kayuh sepeda kumbangku sampailah di grammar course, Elfash namanya. Baru 2 minggu di Pare kayaknya saya sudah mengenal hampir se-grosir teman, ya walaupun kadang saya hanya panggil Mr atau Ms maklum saya suka lupa dengan nama :p


Usai kelas fundamental teman-ku dari Toraja mengajakku untuk mampir ke campnya di Elfash. Betapa exited-nya saya, maklum kan saya memang lagi mencari kasur baru, siapa tau inilah kasur yang saya cari.


Beberapa langkah dari kelas fundamental Grammar akhirnya saya sampai di kamarnya. Kamar ini lebih mirip seperti ship, ada 4 kasur tapi disusun bertingkat. Like a dorm in Amerika *gaya. Kayaknya seru juga nih kalo dapet kasur di sini. Akhirnya teman-ku asal Toraja ini menjelaskan mengenai program & peraturan di sini. Ehmmm kayaknya saya mulai tertarik nih. Saya hanya berkata, "nanti gw pikir-pikir dulu deh". Besok gw kasih jawaban, lagian gw juga udah DP kostan di tempat lain.


Sampai kostan saya bertapa bersama Atha membicarakan mengenai kasur baru. Setelah di timbang-timbang kayaknya lebih berat ke Elfash nih. Yaaa itung-itung ada yang ngawasin speak english selama di Pare. FYI camp di Pare hampir semuanya punya rules harus menggunakan bahasa inggris selama di dalam camp, kalo speak bahasa ya siap-siap mendapat punishment dari tutor (sebutan untuk pengawas).


Keesokan harinya saya meluncur ke kamar teman saya asal Toraja ini saya bilang, "kayaknya gw pindah ke sini aja deh boy" Dia berkata: Ok kalo begitu...


Dan mulai 10 Maret 2013, Tri Budhi Santoso memilih kasur di Elfash untuk sekedar melepas lelah selama saya studying in Pare.

Rabu, 01 Mei 2013

Sahabat-Sahabat Baru


Saat menginjakan kaki di Pare sempat ada ketakutan yang muncul. Takut jauh dari keluarga, sampai takut tidak punya sahabat-sahabat. 

Ternyata dugaan saya salah, Tuhan memberikan Sahabat-sahabat baru dengan latar belakang budaya yang berbeda & lumayan gila seperti saya :))

Atha, mungkin semua sudah tau siapa dia. Secara dia salah satu owner EO dugem ternama di Jakarta yang memang sudah menjadi sahabat saya sejak SD. 

Putra Toraja bernama Jefry yang menggeluti sastra coding, yang pada akhirnya dia mulai menyadari kalo sastra coding bukan dunianya.  Someday saya percaya dia akan jadi writter traveller seperti cita-cita-nya saat ini. Ia tahu banyak tempat-tempat keren di Indonesia. Sahabat saya yang satu ini gak bisa lihat yang namanya air menggenang apalagi kalo melihat yang namanya laut atau kolam renang. Ia bisa menghabiskan waktu lama untuk berenang, saat melihat air dia selalu berkata "Insang gw udah keluar nih kayaknya".

Yanuar, walaupun tidak terlalu lama saya mengenalnya tapi ia memberikan warna hari-hari selama di Pare. Saya agak bingung dengan dirinya kalo dibilang ganteng ya gak ancur-ancur banget malah bisa dibilang ganteng untuk sekelas anak-anak Bandung. Tapi ia selalu gak PD saat mendekati perempuan. Selalu banyak cerita-cerita menarik saat dia PDKT dengan wanita di Pare. *maaf ya teman :p

Mr. Arief putra Kalimatan yang menetap di Malang lebih dari 8 tahun. Ia punya cita-cita untuk memerdekakan Kalimantan. Ia menganggap Kalimantan punya semua yang dimuliki untuk sebuah negaraUsai study dari Pare ia akan melanjutkan S2 nya di Jogja. Kalo urusan naik gunung & berbau alam dia-lah jagoannya. Tapi biasanya saat berada di alam dia kurang asik ya mungkin karena di alam kali ya jadi dia terlalu disiplin :p

2 Sahabat lainnya berasal dari Tegal, Ikbal dan Wahyu. Dua sabahat saya ini memang sudah berkawan lama tapi memiliki kepribadian seperti langit dan bumi. Ikbal yang sangat berambisi untuk kerja di tempat hebat & Wahyu yang hidup semau udelnya. Kami bisa memanggil wahyu fuc*ing Friend karena bibirnya yang gak pernah disaring kalo ngobrol dengan orang. Tapi kadang kata-kata yang keluar dari bibirnya ini membuat semua orang tertawa. Kalo ego-nya sedang muncul semua orang harus menuruti kemauanya termasuk saya, walaupun kadang dongkol dengan tingkahnya.

Kalo sudah balik ke-rutinas di kota masing-masing pasti saya akan kangen dengan kalian :')

Pare, 1 Mei 2013

Si Putih Nan Legi


Mungkin nama makanan ini gak asing ya ditelinga kita. Rasanya memang sederhana, tapi gak sesederhana masakan Padang ya. 

Di Pare tempat saya tinggal sekarang, ketan jadi salah satu snack yang cukup digemari. Sekali lagi bukan karena rasanya tapi suasana-nya, suasana yang saya maksud lebih karena warung ketan berada di tengah sawah. Kebayangkan bagaimana nikmatnya, sometimes saya membayangkan klo aja warung ini pindah ke Jakarta pasti akan lebih ramai, tapi include sawahnya ya :p 

Kalo soal harga gak usah di tanya ya, only 2000 per porsi. Mungkin buat yang sudah pernah nyoba legend ketan susu di Jl Garuda, Kemayoran Jakarta bisa membayangkan bagaimana rasanya. 

Sangat mirip dengan tansu (sebutan untuk ketan susu) di Kemayoran tapi ketan di Pare ada tambahan bubuk kedelai (katanya) tapi si mpu warung gak pernah kasih tau apa saja bahan dasar dari bubuk ini. Someday kalo mampir ke Pare, Kediri jangan lupa mampir ke Ketan Jalan Pancawarna dekat dengan tempat kursus Daffodiels ya :)

Selasa, 30 April 2013

Cerita Grammar dari Pare

Hampir mirip dengan minum obat, kelas grammar kali ini cukup menguras otak.

Entah saya yang bertambah tua, atau memang rutinitas ini terlalu membosankan :p

Saat rasa bosan itu muncul, sepertinya saat yang tepat untuk memanjakan hobi yang hampir lupa akibat terlalu sibuk dengan rutinitas.

Pare, 2013

Last Day In Speaking First Daffodiels



Menghela napas...

Seperti tak rela untuk meninggalkan teman-teman super seru...

2 minggu yang mengagumkan bersama teman-teman baru & teacher yang super...

Ini adalah langkah pertama untuk mencapai langkah ke 1000...

Ini baru permulaan, jalan masih panjang kawan...

Don't say Yes or No

Sore di sebuah kelas speaking...
Teacherku yang satu ini memang berbeda ia selalu memberikan sesuatu yang selalu berbeda.

Sepertinya ia tau apa saja yang dibutuhkan siswanya. Dalam hati saya berkata jangan-jangan ia punya six sense :p

Ada sebuah game yang selalu ku ingat. Saya menamakannya Yes & No question. Don't say yes & don't say no. If you say yes or no you lose.

Satu-satu siwanya akan ditanya mengenai sebuah pertanyaan. Tapi entah kenapa semua yang ditanya akan menjawab yes or no. But is rule not using yes or no.

Setelah saya pahami, ternyata makna dibalik game ini adalah banyak orang Indonesia khususnya saya, ketika ditanya mengenai sebuah pertanyaan ia akan menjawab yes or no padahal otak mereka sedang mencerna apakah maksud dari pertanyaannya tapi reflek kita menjawab yes or no. Lucu banget ya :)

First Day

Wangi parfumku seraya membius semua orang di Jalan Brawijaya, Pare, Kediri.

Dengan sepeda kumbang merk religh kukayuh dengan semangat. Sepanjang jalan saya bertemu banyak wanita edisi ramadhan (sebutan untuk gadis yang memakai jilbab). Semua terlihat begitu excited untuk masuk hari pertama periode 25. Untuk sekedar informasi ada 2 periode kelas di kampung inggris yaitu periode tanggal 10 & 25 setiap bulannya.

Setelah 10 menit akhirnya saya sampai di sebuah tempat kursus bernama Access es untuk mengikuti kelas vocabulary.

Di luar dugaan ternyata hanya dua orang murid saja untuk kelas vocabullary ini. Saya dan Atha (sahabat saya yang juga berniat untuk belajar bahasa di Pare).

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya saat itu. Ini bener gak sih, masa satu kelas cuma 2 orang :p. Tapi yaaa mau bagaimana lagi mungkin ini sudah jalannya (dengan kata lain bisa private).

Kelas pertama di tempat kursus pertama berjalan lancar.

Eits...tunggu dulu, untuk periode 25 ini saya mengambil 3 kelas di 3 tempat yang berbeda.

Waktu menunjukan pukul 08:10 am, waktunya untuk bergegas ke tempat kurus kedua bernama Elfash untuk megikuti kelas fundamental grammar. Kali ini agak berbeda banyak sekali siswanya.

Seperti kelas pertama lainnya, hari pertama ini hanya dilalui dengan introduction saja.

Cuaca siang ini begitu terik, entah karena musim kemarau atau memang matahari saat ini ingin menunjukan kekuasaannya.

Usai kelas grammar ini saya bergegas untuk kembali ke kost-an ku didaerah Jl. Anggrek yang berwarna pink ini.

Sampai di tempat kostanku ini aku berbicang-bincang bersama teman baru dari berbagai daerah. Ada Faris (SMG), Shiddiq (Bali), Endra (Bandung), Om Dodo (LPG), Chandra (MLG) & penghuni kostan paling lama Ardi (Bandung) yang hobi bermain game online.

Usai berbicang-bincang waktunya untuk istirahat sejenak sebelum memasuki kelas speaking malam nanti.

Tidak terasa waktu menunjukan pukul 17:30 saatnya untuk bersiap sebelum masuk kelas speaking pukul 18:30 nanti di Daffodiels.

Waktu begitu cepat sampai akhirnya saya sudah siap di kelas pertama speakingku. Entah ada magnet apa tapi saya merasa sangat nyaman dengan teacher kelasku ini. Dia bernama Mr. Koko. Seperti ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya, ada sebuah energi besar yang membuat kita ingin selalu menantikan kelas berikutnya.

Teacherku yang baru ini sepertinya dia bisa mengetahui kelemahan seseorang terkait dengan bahasa. Mungkin dia punya indera ke 6 kali ya :p

Setiap habis kelas ia selalu bercerita mengenai pengalamannya di berbagai negara. Sebelum dia mengejar di pare ia adalah seorang karyawan di kapal pesiar yang singgah dari satu kota- ke kota lain.

Ia memiliki aksen yang berbeda. Kalo kata temanku, Mr. Koko ini memiliki aksen British tapi anehnya ketika ia berbahasa jawa aksen jawa-nya sangat kental terasa.


Pare, 25 Februari 2013